Calon Dokter Menumpuk

Dokter adalah profesi yang mulia karenamembantu penyembuhan orang sakit dan meluangkan waktu untuk kepentingan manusia. Dokter profesi dengan komitmen seumur hidup mendedikasikan tenaga, pikiran, dan ilmu untuk kesehatan umat manusia. Selain itu, dokter tidak hanya masyarakat perkotaan saja yang membutuhkan, namun warga pelosok juga. Dokter selalu dihormati dan menjadi tokoh masyarakat.

Hanya, jumlah dokter tidak sebanding dengan penduduk Indonesia. Bahkan, penyebaranya tidak merata, banyak di perkotaan. Berdasarkan data, rasio dokter Indonesia 1 banding 2.500 penduduk. Malaysia mencapai 1 dokter banding 800 penduduk. Vietnam 1 banding 2.000, dan di Singapura 1 dokter banding 500 penduduk.

Terbatasnya jumlah dokter tidak lepas dari sistem pendidikan yang lama dan memerlukan standardisasi. Salah satu indikator penerapan standar dalam pendidikan adalah akreditasi yang berperan cukup penting karena dapat menunjukkan mutu dan penyetaraan kualitas pendidikan.

Data terbaru, sekitar 2.500 sarjana kedokteran terus menumpuk dan kesulitan menjadi dokter karena berkalikali tidak lulus Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Sebagian besar berasal dari fakultas kedokteran yang masih terakreditasi C. Mereka tampak kesulitan mengerjakan soal-soal UKDI. Padahal, soalnya standar kompetensi yang memang harus dikuasai dokterdokter di Indonesia.

Sebenarnya, pemerintah telah membantu para calon dokter ini untuk mengikuti pembinaan khusus agar dapat lulus uji kompetensi. Namun dari jumlah yang dibina khusus tersebut pun tingkat kelulusannya tidak lebih dari 15 persen. Kalau sudah dilatih seperti model di pelatnas tidak kunjung lulus juga, ini seharusnya dipertanyakan lagi kepada calon dokter tersebut, apakah dokter sesuai dengan jiwanya atau sekadar asal-asalan.

Editor : Super Admin

Related Posts