Calon Dokter Menumpuk

Menjadi dokter memang tidak mudah. Maklum, dokter itu berhubungan dengan manusia, sehingga harus benar-benar menguasai ilmu manusia. Untuk itu, perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan dokter juga harus menaati standar, tak bisa ditawar-tawar, apalagi berusaha cincai demi mengejar jumlah mahasiswa.

Kita mendukung pemerintah memperketat seleksi masuk perguruan tinggi program studi kedokteran. Kita juga meyakini persyaratan yang harus dilalui perguruan tinggi kedokteran untuk menghasilkan dokter-dokter berkualitas.

Sekarang ini ada sekitar 45 persen dari 83 program studi kedokteran yang status akreditasinya masih C. Pemerintah mesti hadir untuk melakukan pembinaan. Setidaknya, sejak awal para mahasiswa mesti menyadari tentang status perguruan tingginya.

Pemerintah yang memberi izin maka harus bertanggung jawab pula membina dan dibantu agar semua persyaratan dapat dipenuhi. Jadi bukan akreditasi abal-abal. Idealnya, setelah menjadi akreditasi B, baru pemerintah bisa mempersiapkan untuk membuka prodi baru. Tapi ternyata semua proses ini dilewati, sebab bila yang C saja banyak belum berubah jadi B terus buka yang baru maka akreditasi C makin bertambah banyak.

Terpenting lagi, seleksi mahasiswa fakultas kedokteran di seluruh perguruan tinggi harus seperti seleksi mahasisiswa di perguruan tinggi negeri atau harus melalui seleksi ketat yang berlaku secara nasional, seperti di jalur Selekasi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Di perguruan tinggi swasta, sistem seleksi untuk menjadi mahasiswa kedokteran dinilai sangat longgar.

Bahkan, pemerintah lamban memberikan sanksi kepada perguruan tinggi yang sekadar mengejar jumlah mahasiswa dan mengabaikan kualita. Harus ada sanksi yang memberikan efek jera kepada perguruan tinggi yang menghasilkan lulusan apa adanya alias di bawah standar.

Sumber: https://koran-jakarta.com/calon-dokter-menumpuk

Editor : Super Admin

Related Posts